" Bersama PKS )|( , Membangun Magelang, Menuju Indonesia yang Adil dan Sejahtera, dengan : Cinta, Kerja, Harmoni "
Home » » Legislator PKS : Pengendalian BBM Tidak Optimal

Legislator PKS : Pengendalian BBM Tidak Optimal

Written By Unknown on Rabu, 03 April 2013 | 3.4.13

Rofi Munawar (F-PKS), Anggt Komisi VII DPR RI.
PKS KOTA MAGELANG -- Jakarta [Seputar PKS], Defisit perdagangan akan terus belangsung selama kebijakan pengelolaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi belum dapat dikendalikan oleh Pemerintah. Kenaikan pertumbuhan ekonomi perlu di dukung oleh ketersediaan energi yang besar, namun ironisnya selama ini stabilitas pertumbuhan ekonomi di topang oleh importasi migas yang luar biasa akibat produksi migas nasional yang terus menurun sepanjang tahun dan pengendalian yang tidak efektif.

Anggota Komisi VII DPR RI Rofi Munawar menanggapi di Jakarta (1/4), “Defisit perdagangan akan terus berlanjut jika kinerja migas terus mengalami penurunan. Kebutuhan akan energi yang besar di dalam negeri, harus dikompensasi dengan mendatangkan migas dari luar yang cukup besar. Jika pola ini diteruskan di tengah situasi ekonomi dan energi dunia yang kompetitif akan sulit mencapai peningkatan perekonomian yang lebih tinggi,”

Neraca perdagangan Indonesia kembali defisit pada Februari 2013, yang nilainya mencapai US$ 327,4 juta. Secara kumulatif (Januari-Februari 2013), jumlah defisit perdagangan Indonesia tercatat US$ 402,1 juta. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menuturkan, penyebab defisit neraca perdagangan adalah karena impor BBM bersubsidi jenis premium.

Rofi menambahkan, di tahun 2012 merupakan titik terendah produksi gas dan diperkirakan tahun ini merupakan titik terendah produksi minyak sekitar 840-850 ribu barel per hari (bph). Sedangkan kebutuhan BBM bersubsidi tahun 2013 diprediksi mencapai 50 juta kilo liter (KL) hingga akhir tahun. Beragam cara pengendalian dilakukan oleh Pemerintah untuk menekan konsumsi BBM, namun tidak banyak membuahkan hasil yang maksimal. Keterdesakan penyediaan BBM dilakukan dengan melakuan importasi migas yang semakin tinggi dari tahun ke tahun.

“Cara paling cepat untuk memenuhi kebutuhan BBM yang tinggi yaitu dengan melakukan importasi, namun kebijakan tersebut akan berbahaya di masa yang akan datang jika negara produsen menahan minyak mereka dan kemampuan fiskal kita tidak dijaga dengan baik. Perlu ada terobosan yang serius dalam menekan laju defisit perdagangan indonesia saat ini dari sektor migas dengan mendorong optimalisasi pemanfaatan gas, energi alternatif dan menemukan ladang-ladang minyak baru yang potensial,” tegas rofi.

Legislator dari Jatim VII ini menyadari bahwa telah sejak lama kondisi neraca minyak nasional mengalami defisit. Karenanya keseriusan dibutuhkan bukan hanya di sektor kebijakan, namun juga pada kemampuan mengeksekusi dan implementasi kebijakan tersebut. Bank Indonesia mencatat tingginya impor migas tersebut diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan likuiditas valas domestik.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit perdagangan sepanjang tahun lalu mencapai US$1,63 miliar karena pukulan defisit neraca perdagangan migas sebesar US$5,59 miliar. Penyebab defisit karena Impor migas mengalami peningkatan dari US$40,7 miliar pada 2011 menjadi US$42,25 miliar pada 2012. [Fraksi PKS DPR RI]
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Template Created : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. PKS KOTA MAGELANG - All Rights Reserved
ReDesign by PKS KOTA MAGELANG
Powered by Blogger