" Bersama PKS )|( , Membangun Magelang, Menuju Indonesia yang Adil dan Sejahtera, dengan : Cinta, Kerja, Harmoni "
Home » » Sikap Positif Dalam Hadapi Persoalan Keluarga

Sikap Positif Dalam Hadapi Persoalan Keluarga

Written By Unknown on Minggu, 03 Maret 2013 | 3.3.13

Oleh : Cahyadi Takariawan
PKS KOTA MAGELANG -- [Inspirasi], “Apakah ada korelasi antara kondisi ekonomi dengan tingkat persoalan dalam keluarga?” demikian pertanyaan seorang teman kepada saya. Ia bertanya dengan sangat serius, sambil menuturkan beberapa kisah tentang keluarga yang berantakan akibat kondisi ekonomi yang buruk.

“Saya sudah hampir sampai kepada kesimpulan”, kata teman ini, “Bahwa semakin sulit kondisi ekonomi sebuah keluarga, akan menyebabkan semakin banyak masalah dalam keluarga tersebut”.

Pertama, saya belum pernah melakukan survei tentang hal ini, sehingga tidak memiliki data untuk menghubungkan kondisi ekonomi dengan tingkat persoalan keluarga. Demikian jawaban saya. Ini hal teknis. Namun ada hal yang menurut saya nonteknis dalam memandang persoalan ekonomi keluarga, yaitu terkait sikap hidup.

Sikap Hidup
Saya sepakat dengan pandangan banyak kalangan, bahwa sikap hidup jauh lebih penting daripada fasilitas hidup. Kisah Hirotada Ototake menjadi pelajaran sangat berharga. Kendati ia tidak memiliki dua kaki dan dua tangan sejak lahir, namun tidak menghalanginya untuk melakukan berbagai macam aktivitas, bahkan tidak menghalanginya untuk berprestasi.

Hirotada Ototake dilahirkan Jepang pada 6 April 1976 dalam kondisi menderita tetra-melia, suatu kelainan bawaan yang membuatnya hampir tidak memiliki tangan dan kaki. Oto baru bertemu ibunya untuk pertama kali setelah 3 minggu dilahirkan, karena ayahnya berpikir ibu Oto tidak siap mental menghadapi kondisi khusus ini. Dugaan sang ayah salah besar, ibu Oto sangat bahagia setelah melihat anaknya, walau kondisi Oto tidak seperti bayi pada umumnya.

Ayah dan ibu Oto harus bersusah payah mencarikan sekolah, karena ingin Oto masuk di sekolah umum, bukan sekolah anak cacat. Akhirnya Oto bisa masuk sekolah TK Seibo, SD dan SMP di Yohga, SMA di Toyama dan kuliah di Universitas Waseda. Semua itu tidak didapatkan dengan mudah, tapi dengan perjuangan keras.

Dengan keterbatasan fisiknya, Oto tidak mau dikasihani dan tidak bergantung kepada orang lain. Namun, dia juga tidak menolak bantuan teman-temannya. Oto rajin menulis dengan tangannya yang hanya berukuran 10 - 20 cm, mengikuti lomba maraton di sekolahnya, bakhan masuk menjadi anggota tim basket saat SMP. Oto menatap masa depan dengan kepala tegak, tak ada kata menyerah dalam kehidupannya. Kondisi fisik yang terbatas tidak dianggap sebagai penghalang untuk meraih apa yang diinginkannya.

Perhatikan ungkapan Oto berikut : “Beberapa orang dilahirkan dalam keadaan utuh tetapi kemudian menyesali kehidupannya. Beberapa orang, yang sekalipun dilahirkan tanpa tangan dan kaki, menjalani hidupnya di dunia ini tanpa memedulikannya sama sekali. Kondisi cacat tidak ada hubungannya sama sekali dengan kebahagian”.

Sikap hidup Oto yang positif membuatnya meraih sukses dan merasakan kebahagiaan. Tidak memiliki dua kaki tidak berarti terhalang untuk bisa berkeliling dunia. Oto telah menjadi motivator dunia yang sering menghadiri undangan dari berbagai negara. Tidak memiliki dua tangan tidak berarti terhalang untuk menulis dan berkarya. Buku yang ditulis Oto, berjudul “No One’s Perfect”, berhasil menjadi buku best seller. Diterbitkan dalam edisi Indonesia oleh Elex Media Komputindo, Jakarta.

Banyak orang punya dua kaki dengan utuh, bahkan kuat, namun tidak bisa membawanya keliling dunia. Banyak orang punya dua tangan, utuh dan sehat, namun tidak menghasilkan karya. Semua bermula dari sikap hidup. Jika memiliki sikap hidup yang positif, sangat banyak hal bisa dikerjakan di tengah keterbatasan. Jika sikap hidup tidak positif, tidak banyak hal bisa dikerjakan kendati memiliki fasilitas kehidupan yang berlimpah.

Sikap Positif dalam Keluarga
Dalam menjalani kehidupan keluarga, yang diperlukan adalah sikap positif untuk melewati berbagai peristiwa dan persoalan. Kita tidak mungkin berharap memiliki keluarga yang tanpa masalah, karena masalah adalah bumbu kehidupan. Semua orang punya masalah, semua keluarga punya masalah. Maka jangan mempersoalkan masalah yang datang, jangan takut terhadap permasalahan yang pasti akan menghadang.

Yang diperlukan adalah sikap positif dalam menghadapi permasalahan kehidupan. Ekonomi itu adalah fasilitas hidup, sama seperti kaki dan tangan kita. Tuhan memberikan anugerah kepada kita berupa dua kaki dan dua tangan, sebagai fasilitas dan sarana agar kita mampu melakukan berbagai kegiatan. Namun apabila fasilitas tersebut tidak kita miliki, bukan berarti tidak bisa melakukan kegiatan sama sekali. Kisah Hirotada Ototake di atas sudah cukup menjadi inspirasi.

Uang adalah bagian penting dalam kehidupan, namun kebahagiaan bukan hanya terkait dengan uang. Banyak keluarga memiliki dana melimpah ruah, memiliki fasilitas hidup yang berkecukupan, bahkan berlebih, namun tak jarang keluarga mereka berantakan. Banyak orang kaya gelisah dan mengalami depresi, sebagaimana banyak pula orang miskin yang mampu merasakan kebahagiaan di tengah kesulitan hidup sehari-hari.

Dalam perspektif agama apapun, kebahagiaan tidak pernah diletakkan pada satu sisi saja, apakah materi atau rohani. Pasti melibatkan kedua sisi tersebut secara serasi dan seimbang. Dalai Lama menggambarkan, kebahagiaan adalah perpaduan yang rumit antara kesejahteraan material dan kepuasan spiritual. Hal ini menandakan, kebahgiaan tidak bisa dilepaskan dari materi, namun tidak hanya bergantung kepada materi saja. Karena rasa itu terletak di hati dan pikiran, maka kondisi spiritual memegang peranan yang sangat sentral untuk menciptakan bahagia.

Nabi mengajarkan sikap hidup positif dalam kehidupan. Perhatikan ungkapan beliau, “Sungguh menakjubkan urusan orang beriman, sesungguhnya seluruh urusannnya baik baginya. Hal itu tidak akan dimiliki oleh seseorang, kecuali bagi orang beriman. Bila dia memperoleh kegembiraan, dia bersyukur dan itu adalah kebaikan baginya. Namun bila dia tertimpa penderitaan, dia sabar dan itu juga kebaikan baginya”.

Syukur dan sabar, demikian arahan Nabi. Jadi, yang lebih esensial adalah memperbaiki sikap hidup, agar selalu positif dan menghindari sikap negatif. Bukan semata realitas ekonomi keluarga, namun lebih kepada sikap dalam menghadapi realitas ekonomi tersebut. Jika tengah mendapat banyak rejeki, hendaknya bersikap positif atas keberlimpahan rejeki tersebut. Sebagaimana pula ketika tengah berada dalam keterpurukan ekonomi, hendaklah tetap bersikap positif atas cobaan tersebut.

Persoalan keluarga menguat ketika mulai muncul sikap yang tidak positif. Ketika sedang berada dalam kelapangan rejeki, mereka lalai bersyukur, banyak menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Ketika sedang berada dalam keterpurukan rejeki, mereka berkeluh kesah dan berputus asa. Akhirnya konflik mudah tersulut antara suami dan isteri, atau antara orang tua dengan anak.

Jadi, mari kita awali hidup kita setiap hari, dengan sikap positif. Selamat siang, selamat beraktivitas. [berita99]
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Template Created : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. PKS KOTA MAGELANG - All Rights Reserved
ReDesign by PKS KOTA MAGELANG
Powered by Blogger