" Bersama PKS )|( , Membangun Magelang, Menuju Indonesia yang Adil dan Sejahtera, dengan : Cinta, Kerja, Harmoni "
Home » » Jurang Kebodohan

Jurang Kebodohan

Written By Unknown on Rabu, 20 Februari 2013 | 20.2.13

 Oleh : Asma Nadia

Saya tak ingin menyebutmu bodoh.Sungguh. Tapi saya tak mengerti, sebutan apa lagi yang layak bagi seseorang yang mengulangi kesalahan yang dilakukan orang lain, apalagi jika dia pun pernah terjerumus kebodohan itu.

Apakah belum sampai kepadamu hadis Rasulullah SAW, "Seorang mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama?" Dan beragam kalimat bijak. Orang pintar belajar dari pengalaman, orang bodoh tidak belajar dari pengalaman, orang bijak belajar dari pengalaman lain. Saya tak ingin bersikap kasar, tetapi kamu nyaris tidak memberi saya pilihan. Bertubi-tubi kejadian dan kamu masih tak ingin berhenti?

Beberapa artis baru-baru ini tertangkap karena mengonsumsi narkoba. Dan ini bukan kejadian pertama. Sebelumnya, sudah banyak yang mengalami nasib serupa. Sebagian bahkan berujung kepada kematian. Lalu, berapa lagi yang harus ditangkap dan mati, agar kamu sadar dan meninggalkan kebodohan itu?

Saya bukan marah. Namun, kesedihan ini beranjak menjadi sesuatu yang membuat saya nyaris frustrasi. Kepedulian orang-orang tercinta, kasih sayang, kebaikan ayah dan ibu yang belum purna kamu balaskan, tidakkah itu seharusnya menjadi alasan menggenggam kembali kesadaran dan menjauh dari narkoba?

Tahun 1990, dunia terkagum-kagum pada seorang anak kecil delapan tahun dengan wajahnya menggemaskan, akting luar biasa, dan penghasilan di atas ratusan juta orang, sebagian besar bahkan jauh lebih tua dari usianya.

Saya termasuk di antara publik yang membayangkan masa depan gemilang bocah tersebut menanti di depan mata. Tetapi, hanya dalam hitungan beberapa tahun, nama sang anak terlupakan. Pemberitaan tidak lagi tentang kebagusan wajah atau aktingnya, melainkan terus menyoroti kecanduannya terhadap narkoba, hingga sosok yang pernah dinobatkan sebagai anak paling menggemaskan di dunia, itu akhirnya benar-benar menghilang dari perfilman.

Jauh sebelum sang artis cilik lahir, raja musik pop dunia yang kariernya menukik tajam pun meninggal mengenaskan. Jika kamu masih membutuhkan potret buram lain dari Tanah Air tercinta, bukan hanya satu dua. Seorang pemain sepak bola yang begitu diidolakan, hancur kariernya karena zat adiktif itu. Pun nama lain dari atlet-atlet internasional.

Narkoba tidak memberimu apa-apa. Sejatinya ia hanya menempatkanmu pada titik yang paling tak bisa ditoleransi oleh pikiran bodoh sekalipun. Kembali kepada pertanyaan sama.
Berapa banyak lagi yang harus mati dan hancur hidupnya karena narkoba?

Betapa disayangkan, sejumlah tokoh masyarakat dan para artis yang memiliki kesempatan luas menebar kebaikan pada banyak orang, malah menjadi contoh yang merusak. Kesuksesan yang diraih dengan perjalanan panjang dan susah payah. Meniti karier dari titik terendah dan memulai dengan kehidupan yang sangat miskin. Sebuah perjuangan yang seharusnya mampu menginspirasi banyak kalangan.

Ketika penghasilan mulai meningkat mereka memenuhi segala impian, membeli rumah, mobil, dan fasilitas lain. Setelah semua terbeli mereka ingin merasakan indahnya bepergian dan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Namun, keinginan terus terasa belum terpenuhi, sehingga akhirnya banyak yang mencoba hal-hal baru, meski melanggar undang-undang, aturan-aturan moral dan agama. Kebodohan, keinginan yang tak terpuaskan. Hidup kehilangan tujuan.

Benar kata Rasulullah, "Andaikan seorang anak Adam (manusia) mempunyai satu lembah dari emas pasti ia ingin mempunyai dua lembah dan tidak ada yang dapat menutup mulutnya (menghentikan kerakusannya ke pada dunia) kecuali tanah (maut). Dan Allah berkenan memberi tobat kepada siapa yang bertaubat." (Bukhari - Muslim) Saudaraku, anak-anakku. Tak perlu menunggu maut menjemput untuk menghadirkan sebuah kesadaran.

Selalu ada cahaya harapan untuk bangkit dari kebodohan dan keterpurukan. Beberapa selebritas menunjukkan ke pada masyarakat bahwa narkoba tidak selalu menjadi one way ticket.
Ada jalan kembali bagi mereka yang sudah telanjur terjebak.

Kamu bisa belajar dari Slank, Ari Lasso, Gito Rollies (alm), dan sederet nama lain yang berhasil bebas dari kecanduan. Saya percaya, jika mau, kamu sanggup terbebas dari kebodohan itu. Jauhi mereka, semua yang menggiringmu tenggelam kian dalam. Mereka bukan teman, sebab tak ada teman yang mengajak sahabatnya ke jurang kehancuran.

Belajar dari pengalaman orang lain juga dirimu. Dan ini hanya bisa dilakukan sebelum kematian menjemput. Kecuali kamu merasa bahwa terjebak pada lubang yang sama bukanlah suatu kebodohan dan hidup bisa diulang seperti kaset yang diputar berkali-kali, setelah kematian. [resonansi|republika.co.id]

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Template Created : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. PKS KOTA MAGELANG - All Rights Reserved
ReDesign by PKS KOTA MAGELANG
Powered by Blogger