" Bersama PKS )|( , Membangun Magelang, Menuju Indonesia yang Adil dan Sejahtera, dengan : Cinta, Kerja, Harmoni "
Home » » Akal vs Nafsu

Akal vs Nafsu

Written By Unknown on Kamis, 21 Februari 2013 | 21.2.13

Oleh : Syatori Abdul Rauf
SAUDARAKU, kalau jantung adalah kotak dan hati adalah udara yang ada di dalamnya, maka dimanakah posisi akal dan nafsu ?

Akal dan nafsu digambarkan seperti dua buah senar yang dibentangkan di atas lobang kotak tadi, bilamana sang senar dipetik maka pastilah terdengar bunyi atau suara. Suara yang dihasilkan oleh petikan senar tersebut ada dua macam yaitu suara senar dan suara resonansi.

Suara resonansi sesungguhnya timbul akibat suara senar menggetarkan udara yang ada di dalam kotak. Artinya suara resonansi adalah suara senar juga, yang jarak antar keduanya sangatlah tidak nyata, hingga kita menyimpulkannya sebagai bersamaan. Di sisi lain kita punya pengalaman bahwa suara resonansi akan selalu lebih nyaring (kuat) ketimbang suara aslinya.

Demikian pulalah yang terjadi saat salah satu di antara dua senar yang “melintang” di atas jantung hati, yaitu akal dan nafsu kita dipetik, akan terdengarlah dua suara, suara asli dan suara resonansi.

Petikan Senar Akal.
Saudaraku, saat kita memetik senar akal, lewat aktivitas kita berfikir, bertadabbur atau merenung, maka akan terdengar sebuah suara, namanya “ilmu”. Manakala suara ilmu ini menggetarkan “udara” hati, maka akan terdengar suara resonansi, namanya “hikmah” yang akan mendorong kita untuk sesegera mungkin melakukan “amal shalih”. Jarak antara ilmu, hikmah dan amal shalih ini hanyalah sepersekian detik, nyaris tak berjarak. Dan suara (resonansi) “amal shalih” selalu akan lebih kuat bila dibanding dengan suara akal yang sesungguhnya yaitu ilmu.

Fenomena seperti ini memberikan kesimpulan kepada kita, bahwa bilamana akal “terbentang” kuat di atas jantung hati, dan hatipun bersih tiada bertutup maka suara ilmu dan amal shalih ini akan menjadi suara merdu lagi syahdu yang membuat hidup ini semakin penuh warna dan makna; langkah kaki inipun tidak lagi mengenal letih apalagi henti, terus berlari menuju “maqam” tertinggi, hidup mulia di Sisi Allah Rabbul ‘Izati.

Petikan Senar Nafsu.
Saudaraku, bila ada orang yang kelewat berani memetik senar nafsunya, maka sebagaimana memetik senar akal, akan terdengarlah dua suara. Suara yang pertama namanya “syahwat”. Ketika syahwat ini teresonansi masuk ke dalam hati akan lahir suara kedua yaitu “amal thalih” (jelek). Jarak antara syahwat dan amal thalih inipun hanyalah sepersekian detik.

Jarang kita jumpai ada orang yang bisa mengontrol dirinya, saat sang syahwat ini sudah menguasai hati.

Saudaraku, di atas kita katakan bahwa orang yang memetik senar nafsunya adalah orang yang kelewat berani. Mengapa? Sebab yang sesungguhnya berhak memetik senar nafsu pada diri setiap manusia adalah “Dia” Sang Pencipta, Penguasa dan Pemelihara nafsu, Allah Rabbul ‘alamin.

Kapan seseorang dianggap telah memetik senar nafsunya? Saat manusia “memaksakan” diri menyertakan nafsu dalam aktivitas hidupnya, seperti memandang dengan nafsu, berkata dengan nafsu dan seterusnya.

Ya Allah, ampuni kami jikalau selama ini kami kurang sungguh-sungguh menjaga hati ini, membiarkannya dikuasai nafsu dan syahwat. Kuatkan diri ini ya Allah, agar agar kami selalu berkawan akrab dengan ilmu, hikmah dan amal shalih…
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Template Created : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. PKS KOTA MAGELANG - All Rights Reserved
ReDesign by PKS KOTA MAGELANG
Powered by Blogger