" Bersama PKS )|( , Membangun Magelang, Menuju Indonesia yang Adil dan Sejahtera, dengan : Cinta, Kerja, Harmoni "
Home » » Ustadz Tohari: Pemimpin sebagai Khadimul Ummah

Ustadz Tohari: Pemimpin sebagai Khadimul Ummah

Written By PKS KOTA MGL on Rabu, 09 Desember 2015 | 9.12.15

“Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Aali Imran [03]:26)

  
Ketua Kaderisasi DPW PKS Jawa Tengah, Ustadz Tohari
PKSKotaMagelang
| OASE -
Alhamdulillah, Allah SWT memberi keleluasaan untuk berdakwah. Sebagai orang yang beriman kita wajib bersyukur atas kesempatan ini. Amalan dakwah ini harus senantiasa melekat kepada kaum muslimin. 

PKS sebagai partai dakwah keyakinan itulah yang ada bersemayam kokoh dalam setiap dada para kader. Meski pun awalnya banyak yang sangsi, “Apa bisa mendekatkan masjid dengan istana?” “Tidak mungkin, belum ada referensinya partai dakwah di Indonesia.” Dibawah pandangan skeptis itu kader PKS yakin, bahwa Islam rahmatan lil’alamin bisa terwujud di Indonesia.  

Antum harus menyadari, bahwa perjuangan lewat partai itu lebih berat tantangannya. Karena sudah langsung berhadapan head to head antara haq dan bathil. Itulah makna dari pemimpin sebagai khadimul ummah (pelayan masyarakat). Tapi, bagaimana mungkin seorang pemimpin bisa menjadi pelayan umat, kalau tidak ada karakter shalih di dalam dirinya. 



Kekuasaan ini bukan milik manusia, tapi kekuasaan milik Allah SWT. Sangat layak kalau kita umat Islam mengelola negeri Indonesia ini. Sirah membuktikan ketika sebuah negara, dikelola orang shalih, maka Allah SWT akan membuka pintu keberkahan. Maka keterlibatan kader PKS untuk mengelola negara ini bukan sekadar program, tapi ada amanah nubuwah dan ilahiyah. Setiap kader punya tanggung jawab kontribusi, agar kemaslahatan dan keadilan itu bisa terwujud.

Dengan adanya partai dakwah adalah satu karunia, bahwa seorang kader diberi kesempatan berkhidmat untuk Negara Indonesia ini. Umat Islam punya kewajiban menciptakan baldatun thoyibatun wa ghafur. Negeri yang baik akan mendapat ampunan dari Allah SWT.

Sekali lagi, bagaimana mungkin keberkahan akan terwujud kalau pengelolanya tidak shalih.

Ambil perumpamaan, Antum menjadi ketua RT dan menyelesaikan persoalan di RT tersebut. Maka hakikatnya Antum mendapat kelipatan pahala sejumlah warga di RT itu. Demikian sebaliknya kalau ada aturan yang antum keluarkan dan berdampak buruk (maksiat) antum mendapat kelipatan dosanya. Dengan partai masuk ke dunia politik, Allah SWT member kesempatan terbukanya pahala berlipat lebih besar. Jadi, keberadaan seorang kader PKS dalam mengelola negara ini adalah dalam rangka, meningkatkan pahala kebaikan.

Sebagai bukti, di Purworejo, sudah ada Perda Miras. Jadi siapa pun yang mengoplos miras di Purworejo, maka bisa ditindak. Di Purworejo tadinya penyebaran Miras terbesar se-Karesidenan Kedu. Ternyata  penyebarannya dari Purworejo, kami ajak rekan PDIP untuk mengatasi keprihatinan ini. Maka terbentuklah Pansus Miras. Lahirlah aturan hingga 0 persen tanpa miras. Meski ada ‘undangan dari Jakarta, katanya ini tidak boleh Perda seperti ini. Alhamdulilah, DPRD Purworejo tetap konssiten padahal sudah ada tekanan dan rayuan. Ada Pengusaha yang sampai setor Rp 300 juta, untuk membatalkan Perda antimiras di Purworejo ini.

Dengan ketok palu sidang, memanfaatkan peluang kebijakan. Ketika Perda itu sudah sah maka menjadi kewajiban pemerintah untuk menjalankannya. Polisi punya kewajiban menindak yang melanggar Perda antimiras itu. Masyarakat punya hak untuk melaporkan. Sudah jelas, ada sanksi Pidana bagi yang melanggar perda.    

Saya meyakini dengan amar makruf nahy munkar lewat kebijakan maka akan efektif. Ini (partai) adalah sarana  perjuangan, ada tempat yang strategis untuk berdakwah. Itulah makna pelipatgandaan dari dakwah siyasi ini.

Kader PKS sebagai Pelayan Umat, jabatan itu bukan diminta. Ketika menjadi Caleg, pun begitu, tidak ada yang tahu sehari sebelum ditetapkan. Karena kita yakin ini bukan jabatan tapi amanah. 

Saya yakin, masih banyak kader yang lebih baik, lebih pintar dan ikhlas. Tapi, amanah kaderisasi ini dibebankan kepada saya. 

Inilah yang ada didada setiap kader PKS, amanah itu peluang bagi untuk memaksimalkan peran dakwah. Karena dakwah sudah mengkristal jadi partai politik kita tidak ragu-ragu lagi. Dengan partai program untuk mewujudkan kemaslahatan itu menjadi banyak. Karena amanah yang besar itu menjadikan pahala yang berlipat ganda.

Tahajudnya pria beristri dengan bujang, lebih berat timbangan pahalanya pria beristri demikian pula tahajudnya anggota dewan lebih berat dari kader biasa.

Maka PKS ingin terlibat dalam amal siyasi ini. Karena salah satu dari proses amal dakwah adalah adanya  tahapan program yang jelas. Dimulai dengan perbaikan diri dengan 10 muwashfat. Akidah, ibadah dan amaliah seorang kader harus bagus. Kesepuluh muwashafat, ciri pribadi unggulan, itu  harus menyatu dalam karakter kader.

Pribadi Shalih itu pribadi yang bagus dan unggulan. Maka dimana pun dia harus bagus. Ditempatkan dimana pun unggul. Sebagai Suami, komandan, penguasa atau menjadi politisi maka dia akan tetap sebagai pribadi yang shalih. Selanjutnya keshalihan bukan dinikmati untuk pribadi saja, Itulah makna pelipatgandaan amal tadi.

Sebagai ketua RT amalnya akan berlipat sebanyak warganya, terus begitu sampai jabatan tertinggi. Amal shalih berupa kebijakan akan terus berlipat, meski antum sudah turun jabatan. Apalagi bila amal tersebut menjadi budaya. Tradisi yang baik yang antum jalankan ke anak-cucu dan menjadi kebiasaan lalu menjadi budaya. Maka pahalanya akan berlipat.

Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan maka bagi orang yang menunjukkan itu akan mendapatkan pahala sesuai dengan orang yang mengikuti kebaikannya itu.   Inilah hakikat multilevel yang diridhai Allah SWT. Ini merupakan bonus yang Allah SWT berikan kepada juru dakwah. Peringkat terbaik hanya Allah SWT berikan kepada orang yang shalih.

Jadi Islam tidak bisa dipisahkan dengan kekuasaan. Justru dengan berkuasa, akan terbuka peluang kebaikan. Sebaliknya godaannya pun juga banyak. Generasi sabiqunal awalun pun banyak yang menjadi pejabat. Dan mereka tetap bagus (shalih) dan unggulan karena terus dalam bimbingan Rasulullah saw.

Sekolah murabi dan rekrutmen, itulah program kaderisasi. Program kaderisasi ini tidak mengenal jeda, liqo dan mabit tidak boleh berhenti meski ada Pilkada.  Maka harus terus terjaga, karena itu tidak ada alasan untuk tidak liqo, menjadi Menteri, pejabat, Bupati anggota dewan tetap liqo. Tidak ada alasan untuk meninggalkan liqo.

Kami kuatkan kembali ini agar kader PKS tidak salah orientasi. Jabatan dan rejeki itu bukan urusan manusia. Manusia hanya disuruh ikhtiar. Mari kokohkan etos sebagai partai dakwah. Keyakinan ini harus kita tampakkan, tapi bukan untuk dibangga-banggakan apalagi jadi rebutan. Di PKS tidak ada jabatan, yang ada beban amanah. Jabatan itu tidak ada garansi sebagai pintu masuk surga kalau niatnya salah.

Siapa pun bisa berkontribusi untuk dakwah. Inna akromakum indallahi atqokum, yang paling mulia adalah yang paling taqwa sesuai Firman Allah SWT di surat Al-Hujurat [49] ayat 13. Bukan pangkat, jabatan atau titelnya yang dinilai oleh Allah SWT, tapi takwa. Kalau kita terus berbuat maka Allah SWT, Rasul dan orang Islam akan melihatnya.

Barangsapa berbuat kebaikan dari laki-laki dan perempuan dan dia mukmin, maka Allah akan karuniakan kehidupan yang baik (Thoyib). Para mufasir sepakat, Thoyib disini adalah surga. Jadi, selama orientasinya surga, maka semua masalah akan bisa diselesaikan. Orang berorientasi surga akan diberi kebaikan dalam hidupnya. jadi masuk organisasi apa pun kalau orientasinya surga maka akan memperoleh kebaikan.

Sebaliknya partai dakwah kalau orientasinya melenceng maka sangat mungkin akan menimbulkan banyak problem. Maka meluruskan kembali jatidiri kita sebagai partai dan dakwah adalah poin pertemuan ini. Ketika menjadi anggota partai, maka tugas kita adalah sebagai seorang dai. Dan ini tidak akan nyambung kalau seorang kader tidak mengerti makna perjuangan.

Perjuangan butuh stamina,  justru dengan adanya rintangan akan terbukti istiqomahnya. Seorang kader bisa bertahan karena adanya keyakinan dan harapan. Harapannya adalah ridha Allah SWT, masuk surga. Semoga Allah SWT mempertemukan kita di surganya.  Aamiin

 



       


Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Template Created : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. PKS KOTA MAGELANG - All Rights Reserved
ReDesign by PKS KOTA MAGELANG
Powered by Blogger