" Bersama PKS )|( , Membangun Magelang, Menuju Indonesia yang Adil dan Sejahtera, dengan : Cinta, Kerja, Harmoni "
Home » » Inti Keadilan

Inti Keadilan

Written By Unknown on Selasa, 23 April 2013 | 23.4.13

ilustrasi Inet.
PKS KOTA MAGELANG -- [Oase], Dalam banyak hal setiap kita adalah hakim. Yang harus mengambil suatu keputusan terhadap berbagai hal. Bisa jadi kita harus mengambil keputusan atas suatu permasalahan yang terkait dengan diri kita atau permasalahan yang terkait dengan orang lain. Bisa jadi kita harus mengambil suatu keputusan untuk sebuah penyikapan terhadap suatu kondisi yang ada di hadapan kita.

Untuk menjadi seorang hakim yang adil syarat utama yang harus di miliki adalah keluasan ilmu tentang permasalahan yang hendak diputuskan. Orang yang ingin mengadili seorang pencuri tentunya harus menguasai hukum tentang pencurian. Orang yang ingin mengadili seorang penzina tentunya harus menguasai ilmu tentang perzinaan. Sebab dari orang-orang seperti itulah hukum bisa ditegakkan dengan benar.

Syarat kedua agar orang menjadi seorang hakim yang adil adalah memiliki keikhlasan. Segala yang dia lakukan hanyalah untuk mencari ridlo Allah semata. Hanya orang-orang yang memiliki keikhlasanlah yang mampu bertahan dari godaan-godaan duniawi yang sering kali datang menjelang.

Syarat ketiga yang harus di penuhi oleh seorang hakim ketika ia ingin mengambil keputusan yang adil adalah dia harus mengetahui alasan terjadinya suatu peristiwa. Dia harus mempunyai pengetahuan yang lengkap tentang suatu peristiwa. Kelengkapan pengetahuan itu bisa didapat dari kelengkapan data atau keterangan dari saksi.

Jika kemudian pengambilan keputusan itu terkait dengan “kesalahan” seseorang maka seorang hakim harus mencari tahu apa motivasi dari sang pelaku “kesalahan” tersebut. Sebab bisa jadi seseorang itu melakukan kesalahan tetapi sebenarnya dia tidak sengaja. Atau dia melakukan suatu kesalahan itu karena faktor keterpaksaan.

Dalam konteks inilah, kata “mengapa” menempati peran yang sangat penting. Ia adalah kunci untuk membuka pintu bagi ruang yang selama ini tertutup. Yang kita tidak akan mengetahui apa yang ada di dalamnya kecuali kita mau memasukinya. “Mengapa” adalah penguak tabir yang mungkin selama ini tersembunyi. Yang kita tak mengetahui kecuali kita mau menguaknya.

Dengan “mengapa” inilah kita bertabayyun. Mencari tahu sebab mengapa saudara kita, orang-orang di sekitara kita (dalam pandangan kita) melakukan “kesalahan-kesalahan” . Dengan kata “mengapa” inilah kita mencoba untuk mengenali secara utuh “kesalahan” saudara kita, orang-orang disekitar kita. Setelah mendapat jawaban atas kata “mengapa” inilah kita baru layak untuk menentukan sikap. Membuat keputusan.
Tetapi kalau kita mau berfikir lebih jauh, kata “mengapa” bukan hanya mengacu pada mencari tahu “alasan” orang itu melakukan kesalahan. Kata “mengapa” sesungguhnya memiliki dimensi yang sangat luas.
****
Seseorang melakukan suatu tindakan itu sangat dipengaruhi oleh pola berfikirnya.

Pola berfikir sangat dipengaruhi oleh pemahaman. Pemahaman terbentuk karena ilmu pengetahuan yang terekam dalam otak. Ilmu pengetahuan sangat dipengaruhi oleh apa yang di tangkap oleh inderawi. Dan apa yang ditangkap oleh inderawi seorang manusia ??

Dan apa yang ditangkap oleh inderawi seorang manusia ?? Itu adalah sejarah hidupnya. Itu adalah buku bacaan yang di baca. Itu adalah lingkungan keluarga yang telah membentuknya. Itu adalah lingkungan masyarakat tempat ia tinggal. Itu adalah alam yang menjadi sahabat karibnya. Itu adalah perwujudan matahari yang hadir disetiap hari yang dilaluinya, yang bisa jadi berbeda dengan perwujudan matahari kita.

Disinilah “mengapa” akan menemukan maknanya yang lebih dalam. “Mengapa” membawa kita kepada pengetahuan yang lebih mendekati sempurna. Membawa kita ke pemahaman tentang kondisi batiniah saudara kita. Kondisi ruh saudara kita. Kondisi ideologi saudara kita. Kondisi psikologis saudara kita. Mengetahui kejiwaan saudara kita. Pengetahuan yang utuh-menyeluruh tentang saudara kita.

Bukankah ketika rasulullah ditanya tentang ibadah apa yang paling utama, maka beliau memberikan jawaban yang berbeda untuk setiap sahabat yang bertanya. Saya kira beranjak dari pengetahuan yang sempurna inilah, kenapa Rasulullah bisa memberikan jawaban yang berbeda atas pertanyaan yang sama yang di ajukan oleh sahabat-sahabatnya.

Dengan pengetahuan yang lebih sempurna inilah maka kita akan sampai pengambilan keputusan yang berkeadilan. Keputusan yang –mungkin- tidak hanya menyelesaikan “kesalahan” saudara-saudara kita, tapi keputusan yang juga mampu menyelesaikan akar kesalahan. Sehingga perbaikan yang kemudian akan dimunculkan adalah perbaikan yang menyeluruh. Yang mendekati sempurna. Yang menyentuh akar kesalahan.

Dengan “mengapa” akan membawa kita mengambil sikap yang selain adil, juga arif dan bijaksana. Kalau pun pada akhirnya kita harus menjatuhkan hukuman atas “kesalahan” saudara kita, hukuman itu masih dilandasi rasa kasih sayang. Hukuman yang penuh cinta. Bukan hukuman yang dinodai dengan kebencian. Wallahu a’lam bishowab. [Ibnu Ahmad]
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Template Created : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. PKS KOTA MAGELANG - All Rights Reserved
ReDesign by PKS KOTA MAGELANG
Powered by Blogger