" Bersama PKS )|( , Membangun Magelang, Menuju Indonesia yang Adil dan Sejahtera, dengan : Cinta, Kerja, Harmoni "
Home » » Shalahuddin Al Ayyubi "Kesatria Agung Penjaga Kota Suci" | Tarikh [Muqodimah, Bagian 1]

Shalahuddin Al Ayyubi "Kesatria Agung Penjaga Kota Suci" | Tarikh [Muqodimah, Bagian 1]

Written By PKS KOTA MGL on Selasa, 12 Maret 2013 | 12.3.13

ilustrasi. (inet).
 Masa-masa Kelam Dunia Islam

PKS KOTA MAGELANG -- [Tarikh], Ketenteraman Yerusalem musnah seketika. Negeri damai yang dibebaskan Umar Al-Faruq seperti terobek-robek. Selama 400 tahun orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama dalam kedamaian. Pasalnya demi mengikuti ajakan Paus Urbanius II pada 27 November 1095 di Dewan Clermont, lebih dari 100.000 orang Eropa bergerak ke Palestina untuk “merebut” tanah suci dari orang Islam dan mencari kekayaan yang besar di Timur. Perjalanan panjang yang melelahkan seperti tak berarti bagi pasukan salib ini. Perampasan dan pembantaian mereka lakukan di sepanjang perjalanan yang mereka lalui. Mereka tiba di Yerusalem pada tahun 1099.

Kota ini jatuh setelah pengepungan hampir lima minggu. Ketika Tentara Perang Salib masuk ke dalam, mereka melakukan pembantaian yang sadis. Seluruh orang-orang Islam dan Yahudi dibasmi dengan pedang. Dalam catatan seorang ahli sejarah, “Mereka membunuh semua orang Saracen dan Turki yang mereka temui… pria maupun wanita.”

Salah seorang tentara Perang Salib, Raymond dari Aguiles, merasa bangga dengan kekejaman yang mereka lakukan sambil berkata, “Sungguh ini adalah pemandangan yang luar biasa untuk dinikmati. Beberapa orang lelaki kami (dan ini lebih mengasihi sifatnya) memenggal kepala-kepala musuh-musuh mereka; lainnya menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkan mereka ke dalam nyala api. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki akan terlihat di jalan-jalan kota. Perlu berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi pada Biara Sulaiman, tempat di mana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali… di biara dan serambi Sulaiman, para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya.”

Dalam dua hari, tentara Perang Salib membunuh sekitar 40.000 orang Islam dengan cara tak berperikemanusiaan seperti yang telah digambarkan. Perdamaian dan ketertiban di Palestina, yang telah berlangsung semenjak Umar, berakhir dengan pembantaian yang mengerikan. Tentara Perang Salib menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota mereka, dan mendirikan Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah.

Sudah menjadi catatan sejarah bahwa kekalahan kaum Muslimin dari pasukan Salib pada akhir abad 5 Hijriah, merupakan salah satu tragedi terbesar yang dialami umat Islam. Hal itu terjadi tidak lain karena kesalahan umat Islam sendiri. Jauh sebelum terjadi invasi pasukan Salib ini, kondisi umat Islam berada dalam keterpurukan, kemunduran dan kerusakan yang parah.

Para penguasa meninggalkan amanat yang diemban, kerusakan pemikiran dan kegilaan akan kemewahan serta kekuasaan. Bahkan mereka berlaku zhalim kepada rakyat. Gubernur Abu Nashr Ahmad bin Marwan, seorang gubernur ketika itu, mengucurkan anggaran 200.000 dinar dalam setiap acara hiburan yang digelarnya. Tahun 516 Hijriah, saat Menteri Sultan al-Mahmud terbunuh, istrinya keluar dari rumah dengan diiringi 100 pelayan dan kendaraan-kendaraan terbuat dari emas.

Padahal, pada saat yang sama, banyak rakyat yang menderita kelaparan. Orang-orang yang tidak berpunya terbelit kesulitan hidup yang luar biasa. Bahkan banyak di antara mereka yang sampai memakan anjing, kucing dan sesama manusia. Ada juga yang sampai memakan anak darah dagingnya sendiri demi mempertahankan hidup.

Para ulama pun banyak yang menjadi “ulama dunia” dengan mencari muka di depan para penguasa demi menuai simpati atau jabatan dan bahkan tidak jarang terjadi permusuhan dan saling menjatuhkan antar ulama. Ketika pasukan Salib membantai ribuan kaum Muslimin, sebagian ulama berusaha menggelorakan semangat jihad kaum Muslimin, tetapi gagal. Karena ruhul jihad sudah musnah dalam jiwa mereka. Belitan kehidupan hedonistik begitu sangat kuat.

Ada cerita yang menyebutkan, sebagian pengungsi membawa tumpukan tulang-tulang manusia, rambut wanita, dan anak-anak, korban kekejaman pasukan Salib, kepada khalifah dan para sultan. Ironisnya, para Sultan malah berkata: ”Biarkan aku sibuk dengan urusan yang lebih penting. Merpatiku, si Balqa’, sudah tiga hari menghilang dan aku belum melihatnya.” Demikian pula halnya keadaan orang-orang kaya yang bergelimang harta saat itu. Mereka lebih mementingkan hobby dan kesenangan mereka daripada membantu saudara-saudaranya yang miskin, tak berdaya serta terzhalimi.

Demikian kondisi saat itu seperti dijelaskan oleh DR. Madjid Irsan Al-Kilani dalam bukunya, Hakadza Zhahara Jīilu Shalahuddin wa Hakadza ’Ādat al-Quds ~ Demikianlah bangkitnya generasi Shalahuddin dan demikianlah al-Quds kembali ke tangan Islam.

Singkatnya, ada arus penyimpangan kolektif yang dilakukan oleh berbagai lapisan umat setelah ditinggalkan oleh tiga generasi emas (shalafus shalih). Penyimpangan yang merambah semua kalangan umat baik pemerintah, ulama, tentara, kaum kaya dan masyarakat awam. [bag.1]
-----
[Aidil Heryana, S.Sosi | Dakwatuna]

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Template Created : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. PKS KOTA MAGELANG - All Rights Reserved
ReDesign by PKS KOTA MAGELANG
Powered by Blogger